Kamis, 14 Januari 2016

Zaman Sekarang

Hello guys! Udah lama nggak berjumpa ya btw hehe…

Kali ini gue akan bahas mengenai ‘’anak zaman sekarang’’ apa sih definisi sebenernya dari ‘’anak zaman sekarang’’? setiap orang memiliki pendapatnya masing-masing sih pastinya. Tapi gue bisa menjelaskan ‘’anak zaman sekarang’’ menurut pendapat gue setelah suatu perbincangan terjadi antara gue dan seseorang.

Ulasan kali ini emg panjang sih, tp gue yakin kalian nggak akan nyesel ngebaca ini dari awal sampe akhir

Di suatu hari, setelah kegiatan syuting untuk tugas film anak kelas 12, dimana gue jadi salah satu pemainnya. Setelah syuting selesai, salah satu kakak kelas yang tidak lain adalah tetangga gue. Mengantarkan gue pulang ke rumah, diperjalanan hujan deras turun dan membasahi kami. Akhirnya si A (kakak kelas itu) memutuskan untuk memarkirkan motor ke salah satu warung di pinggir jalan untuk kami meneduh.

Ia mengeluarkan dua batang rokok dari saku celananya. ‘’ada dua nih, mau?’’ ucapnya sambil tersenyum entah apa maksudnya. ‘’nggak lah gila aja’’ jawabku. ‘’emang harus banget ya ngerokok?’’ tanyaku retoris. Ia hanya tersenyum dan memalingkan wajahnya tanpa menjawab. Berselang detik berikutnya, ‘’susah vit kalo udah candu’’. ‘’ya kalo gitu seharusnya gausah nyoba dong’’ balasku seperti itu, namun aku tau apa yang akan dia ucapkan selanjutnya. ‘’ya gimana udah terlanjur’’ ya aku tau dia akan jawab seperti itu.

‘’ya gimana ya vit, semuanya tuh pilihan’’ ia terdiam dan kembali menyesap batang rokoknya dan menghembuskan asap dari mulutnya. ‘’kalo lu Tanya ke gue semua hal nakal, gue udah pernah ngelakuin semuanya vit, lo sebutin aja semua hal nakal, gue gaperlu jawab lagi’’

‘’Kalo minum?’’ tanyaku. ‘’menurut lo gue pernah minum atau ga? Menurut lo apasih tanggapan lo kalo liat cowok minum?’’ ia membalikkan pertanyaan padaku. ‘’mm… ya ngapain juga sih minum, buat lari dari masalah? Masalah nggak akan selesai dengan cara kayak gitu’’ ia kembali tersenyum dan memandang arah lain. ‘’yang bikin orang ngelakuin hal bandel tuh rasa penasarannya vit. Gini ya, gue emang udah pernah nyobain semua hal nakal, yang jelas perbuatan nakal gue kalau pun merusak, ya merusak diri gue sendiri, nggak merusak atau ngerugiin orang lain, tapi gue udah berenti nakal sekarang’’ ku rasa perbincangan ini semakin menarik. ‘’apasih yang bikin lo berenti?’’ tanyaku penasaran.

‘’SBMPTN’’ jawabnya tanpa pikir panjang lalu seperti menertawai ucapannya barusan. ‘’gue udah kelas 12, gue mau belajar vit’’. ‘’udah?’’ tanyaku memastikan. ‘’udah, gue udah mulai belajar’’ ucapnya mengangguk.

‘’nih vit, kebanyakan orang orang yang nakal pas udah tua tuh, dulu pas muda dia kalem-kalem aja. Tapi kalo buat orang yang udah pernah bandel, dia udah tau rasanya kayak apa, pas udah berkeluarga dan udah punya anak dia pasti bakalan lebih serius dan nggak nakal lagi’’ jelasnya panjang lebar mengeluarkan opini dari kepalanya.

‘’yakin, orang yang dulu bandel itu nggak mau balik lagi?’’tanyaku tak percaya. ‘’yakin, karena dia udah tau rasanya, udah tau akibatnya dan nggak penasaran lagi’’ jawabnya penuh keyakinan atas ucapannya.

Walaupun ucapannya barusan penuh keyakinan, namun aku tetap memandangnya tak percaya ‘’gue sama bokap gue kan sering ngobrol ya, udah kayak temen banget deh, bokap gue juga tau gue ngerokok. Dulu bokap gue tuh parah banget bandelnya, tapi sekarang pas udah berkeluarga, dia udah serius dan udah komitmen banget sama istri dan anak-anaknya. Gue juga mau kayak gitu vit’’
Aku tak bisa berkata apa-apa lagi. Dan obrolan mengenai hal itu telah usai.

‘’kasian banget sih lo vit udah kepanasan tadi, sekarang lepek keujanan’’ ucapnya respect. ‘’yaelah santai aja kali’’ ucapku sambil mengibaskan tangan. ‘’seriusan gue jadi gaenak sama lu, jangan dipendem vit’’. ‘’Lah seriusan, santai ajaa’’ jawabku tulus.

‘’nanti kelas 12 lo bakal rasain sih vit, ribetnya sama tugas-tugas. Jadi lo kelas 12 waktu buat tugas, nggak focus buat UN sama SBMPTN. Nih banyak anak-anak yang stress buat bikin film beginian, tapi kelompok gue santai banget. Gila aja sekelompok cowok semua’’ aku tersenyum mengingat anggota kelompok film ini yang semuanya cowok begajulan wkwk.

‘’ iya sih pasti, kelas 11 aja gue udah ngerasain tugas-tugas ribet’’ ucapku. ‘’ya nanti kelas 12 lo bakal rasain yang lebih vit’’ dalam hati aku berkata. Oke, I’m ready. Hehe. Sok banget
‘’sekarang, gue udah nggak terlalu berharap undangan sih, gue mau focus SBMPTN’’ ucapnya. Mengangguk adalah responku. ‘’gue juga nih, gue SBMPTN paling, soalnya gue lintas jurusan’’ ucapku. ‘’emang lo mau masuk jurusan apa?’’ tanyanya. ‘’psikolog’’ jawabku singkat. ‘’kalo psikolog, pertama lo harus tau, psikolog itu harus S2, soalnya kalo S1 nggak terlalu kepake. Kedua juga PTN nya, lo harus masuk PTN yang bagus’’ aku mengangguk karena kurang lebih sudah paham mengenai hal itu. ‘’kalo lo mau masuk jurusan apa?’’ tanyaku balik. ‘’ekonomi syariah’’ aku tersenyum karena kata terakhirnya. ‘’syariah’’ untuk sosok cowok begajulan seperti di hadapanku ini? Nggak, aku nggak meremehkan kok. Cuma lucu aja plus sedikit kagum sih. ‘’lah ngeremehin? Jangan salah loh, ekonomi syariah sekarang lagi berkembang pesat’’ yha, dia salah paham dengan tanggapanku. ‘’nggak, nggak ngeremehin kok. Kalo ekonomi syariah tuh kerjanya apa deh?’’ tanyaku polos. ‘’gini vit, kalo lo mikir kuliah untuk prospek kerja tuh salah sebenernya. Karena 80% orang kerja nggak sesuai jurusan kuliah yang dia pilih. Misalnya nanti lo kuliah jurusan psikolog, tapi belum tentu kan nanti lo jadi psikolog’’ aku mengangguk membenarkan pernyataannya barusan. ‘’gue tuh milih jurusan kuliah yang gue suka. Karena sebenernya tuh gue nggak mau jadi karyawan, karena pasti ujungnya disuruh-suruh. Tapi gue mau jadi pengusaha. Walaupun ya emang bener kalo misalkan jadi PNS, gaji lo, hidup lo segala macem terjamin, tapi gue nggak suka aja jadi karyawan kayak gitu’’ ucapnya mencurahkan segala hati dan pikirannya.

‘’emang lo mau jadi pengusaha apa? Warnet?’’ ucapku mengingat peran ia di film ini. ‘’beras’’ ucapnya sambil sedikit tertawa. ‘’tapi serius, gue tuh pengen jadi pengusaha sembako gitu deh terus nanti ada agen-agen tinggal ngambil dari gue. Gue sih itu aja pikirannya. Gue mau kuliah, terus kerja cari duit yang banyak abis itu untuk buka usaha itu. Gue nggak mau jadi orang yang disuruh-suruh’’ ucapannya membuatku dapat memetik banyak kesimpulan dan pelajaran berharga yang dapat diambil.

Takdir. Semua yang telah terjadi adalah sebuah takdir. Kita bisa aja berencana tapi tetap ada Tuhan yang menentukan. Nggak ada yang salah dari sebuah takdir. Tugas seorang manusia hanyalah melakukan hal baik yang bermanfaat bagi dirinya dan orang lain serta tidak merugikan orang lain. Hal baik itu tidak selalu melakukan hal-hal yang sempurna seperti hal baik di mata mayoritas manusia. Tapi hal baik bisa aja seperti yang biasanya merokok 3 kali sehari atau berzinah 3 kali sehari menjadi hanya satu kali sehari. Karena ‘baik’ itu relative. Setiap orang punya pilihan atas hidupnya. Entah dia menjorok ke kehidupan yang ‘baik’ atau yang ‘buruk’ dan sekali lagi hal ‘baik’ dan ‘buruk’ itu relative bagi masing-masing individu.

Manusia yang gagal adalah manusia yang tidak memiliki identitas atas pribadinya. Ia tidak tahu menahu bahkan tidak peduli dengan setiap akibat dari perbuatannya. Ia adalah manusia yang tidak memikirkan hak orang lain, bahkan merampas hak itu dan menyakiti orang lain. Baik bukan berarti melakukan hal seperti makhluk sempurna. Tapi berperilaku baik juga bisa dengan mengurangi hal-hal buruk yang biasa dilakukan.

Dan di dalam hidup ini. Semua makhluk sudah memiliki takdirnya masing-masing. Kita tidak bisa memprediksi seperti apa kita nanti di masa yang akan datang. Tapi kita hanya bisa berencana untuk di masa yang akan datang. Hidup itu simple sebenernya, tergantung cara pandang dan mind set setiap individu.

Untuk soal mempelajari ilmu pengetahuan, adalah hal wajib yang harus dilakukan. Bahkan sangat berdosa bila tidak melakukannya. Nah, soal jenis ilmu pengetahuan apa yang akan dipilih, adalah hak setiap individu untuk memilih hal yang ia suka. Tidak perlu memikirkan prospek kerja. Karena sekali lagi 80% manusia di bumi ini mendapatkan pekerjaan tidak sesuai dengan jurusan kuliah yang ia pilih.

Hidup akan sangat lebih berarti jika kita memperjuangkan, berjuang mati-matian demi hal yang kita sukai. Walau ya memang kita tidak boleh naif, manusia itu butuh asupan makanan dan biaya hidup. Itulah tujuannya manusia diberi akal oleh Tuhan. Untuk dapat tetap hidup dan bertahan di kondisi se sukar apapun itu. Manusia adalah satusatunya yang dianugerahi akal pikiran yang dapat dimaksimalkan jika manusia itu sendiri yang mau.

So?
BE DIFFERENT AND MAKE YOUR OWN WORLD.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar